Menata waktu...
Lirih pandang mata jatuh...
...tepat pada angka yang punya roh yang semakin laju perjalanannya...
...mengejar usia muda, menghambat umur tua...
...menjadikan lapang semakin sempit...
...menjadikan senang dan kian alpa terhina...
Dimana iman sebenarnya?
Apa hanya lewat dalam kotak fikir?
Kenapa tidak bisa menusuk imanmu sehingga ke hati?
Owh ya!
Teringat sesuatu...rohmu kini sakit...tersangat tenat...
Kapan kita mahu rawat ‘dia’?
Cukupkah dengan membilang waktu...menanti usia tua...
...dan mahu bersegera kembali...?
Sungguh yakin kamu? Aneh! Manusia sungguh aneh...
Sudah diberi waktu...dipersia...
Sudah diberi ruang peluang...disindir dengan mata menghina...
Sampai kapan? Kesedaran itu akan terus bersamamu?
Jangan sampai...kesedaran itu tidak lagi sudi menjadi teman setiamu...
...yang dengannya, luka pada jiwa bisa diadoptasi dengan bilahan iman...
...yang bisa dirawat lagi rohnya yang sakit...dengan air mata pengampunan...
Owh ya Tuhan...
Owh my Savior...
Owh...penyelamat manusia...
Allahu Allah...
Genggam hati kami...
...dengan penyatuan ‘tangan-tangan’Mu yang tidak bisa dirempuh manusia penuh angan-angan...
...baluti hati-hati kami...saluti hati-hati kami dengan simbahan iman...
Saluti hati-hati kami dengan simbahan iman...
Dengan itu mudah...
...mata ini semakin peka, telinga semakin suka ‘melihat’...
Bahawa kebaikan itu halwa syurga...
Ayuh! Beramal dengannya.
Nota : Puisi ini saya karang juga bersambil lewa. Sebenarnya ideanya tidak tuntas. Perkhabaran ini tidak persis yang lewat dalam fikiran saya. Barangkali ini ilham baru dari Dia. Lalu saya membenarkan jari jemari menari-nari di atas papan kekunci dengan sepenuh jiwa dan raganya. Apa mungkin tangan ini sedang beroperasi meningkatkan iman? Mungkin ya. Mungkin tidak. Barangkali juga mungkin.
-nurnurullah-
28 Rejab 1432 H
Kota Damansara~KB-BDRI

Tiada ulasan:
Catat Ulasan