Rabu, 13 April 2011

Doa buat seorang akh.


Alhamdulillah. 
Sepanjang hayat saya, tidak pernah KEKASIH HATI beri izin pada saya untuk kenal manusia seperti dia. Selama usia saya 23 tahun, belum pernah KEKASIH HATI beri ruang untuk saya menjadikan manusia sepertinya untuk saya teladani. 

Alhamdulillah.
Sungguh saya aneh waktu itu. Tidak semena-mena KEKASIH HATI mencampakkan satu perasaan. Entah! Sukar saya ungkapkan. Seingat saya, pada awal pertemuan saya ditemani seorang akhawat. Sangat terjaga. Bahkan, saya jadi malu dengan sesungguhnya! Begitu juga dia. Tidak banyak bicara yang kami uraikan. Cukup hanya pada matlamat pertemuan. Tidak ada yang lebih. Sungguh KEKASIH HATI benar menjadi matlamat.

Hampir setahun melewati.
Sungguh saya masih belum bisa tafsir perasaan dia. Dan saya sendiri begitu banyak sekali berperang dengan perasaan sendiri. Semakin hari yang saya lewati, saya tanam untuk lebih sabar dalam penantian. Lebih mujahadah tatkala saya cuba mendampingi seorang mujahid. Mujahid yang tidak pernah tewas pada waktu yang sia-sia. Seringkali amanah jua tanggungjawab berlangsung kawa sehingga suatu saat dulu, saya rasa tersisih. Bagaimana perasaannya dia? Apakah sudah berubah? Astaghfirullah. Kesalnya pada diri.

Tahun kedua.
Keadaan semakin tidak menjadi stabil. Bahkan, semakin sulit untuk saya menerka rancangan KEKASIH HATI. Hati saya makin sakit. Diri makin dirasakan terpinggir. Benar seolah tiada harapan pada hubungan. Apalagi pendengaran yang tidak-tidak dari ukhti-ukhti yang saya kenal dia. Tentang dia yang saya maksudkan begitu dan begini. Perit pendengaran saya. Perit lagi penanggungan di hati saya. Dalam mentafsir kisah cinta yang tidak kesampaian antara mereka, baru saya menemukan jawapannya. Dan saya lebih yakin. Mudah-mudahan.

Hari ini.
Bangki saya dari lena yang sungguh-sungguh panjang. Hampir saya lupa pada KEKASIH HATI, perencana takdir segala manusia. Saya nekad mengungkap kata pisah. Bukan pada ukhuwah, tetapi pada harapan yang semakin menjadi kurang pasti. "Akh, maafkan saya. Sehingga hari ini, hati saya berat untuk lepaskan kamu benar-benar pergi dari saya. InshaAllah. Saya berusaha keras untuk menjadi neutral kembali. Hati yang kosong tanpa sesiapa pun yang bisa saya isi namanya. Selain hanya ALLAH. Dan Rasulullah."

Akh,
Dari kelmarin saya terus memikirkan. Apakah yang sedang berlaku pada dirimu saat ini adalah kerna fitnah dari saya dahulu? Sehingga terbawa pada perwatakanmu yang tidak selayaknya begitu. Saya tidak meminta kebaikan daripadamu. Saya meminta atas namamu sebagai 'hafiz'. Saya meminta atas kebaikan-kebaikanmu yang begitu banyak berjasa pada manusia. Bahkan, saya meminta atas usahamu untuk menjadi soleh pada jiwa bonda yang sangat kamu kasihi. Dan tentunya, permintaan-permintaan ini bukan untuk saya. Tapi untuk dirimu sendiri. Untuk masa depanmu. Dan saya tidak mahu mengambil apa-apa keuntungan dari kebaikanmu. Kerna saya tahu, yang layaknya untuk kebaikanmu...hanyalah bondamu. Akh, andai benar saya menjadi fitnah yang tanpa sengaja terbawa pada perlakuanmu hari ini...saya mohon maaf. Terlanjurnya saya dalam perilaku. Akh, selamatkan dirimu.

Menghitung waktu.
Saat saya membilang waktu, saya semakin yakin dengan keputusan ini. Semoga jauh ini, jauh yang Engkau redha. Jauh yang engkau jua redha pada saya, akh. 'Aasif jiddan 'ala kulli hal. Jazakallahu khairan jazaak.

"Akh, semoga dirimu tetap di bawah jagaan KEKASIH HATI. Ameen"

wardatulHikmah
14 April 2011
0229 a.m.
Kuala Lumpur.

Tiada ulasan: