Alhamdulillah syukur di atas segala nikmat. Setinggi lafaz puji dan syukur padaMu Ilahi Rabbi yang berkuasa menghidupkan, lalu mematikan, lalu kami dihidupkan kembali di alam yang lain. PadaMu Allah, sekalian makhluk bergantung. Engkau yang tiada duanya, tiada tiganya. Tetap Engkau Yang Esa. Allah Yang Satu.
Selawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah SAW, seluruh keluarga dan para sahabat Baginda. Juga kecintaan-kecintaan Baginda.
puisi untuk ayah.
saat kerinduan bertamu
pada redup pandang wajahmu
pada keringat letih
yang tidak pernah menemukan ayah pada erti penat
demi ummi, demi kami anak-anakmu
tanpa lelah
tanpa keluh, apa lagi kesah
ayah tenang, sentiasa tenang
diammu adalah zikir
bicaramu tegas, kerna cintamu pada kami kerana Rabbul Jalal
kerna ayah mahu kami benar-benar kembali pada Ilahi.
puisi ini untuh ayah.
yang saya rindu saat bertemu
mulus pandang wajah ayah yang tampak letih
namun keluhan itu...
tidak pernah ada.
betapa hebat ayah. mana dirimu campakkah keletihan itu?
sehingga tidak langsung memberi ruang untuk merawat dirimu sendiri,
kerna keutamaan bagimu, hanyalah kejayaan, kebahagiaan kami,
anak-anak ayah.
puisi ini untuk ayah.
sungguh saya rindu.
teringat saat akhir berpisah,
tangan ayah saya capai, saya genggam...kuat.
saya rapatkan wajah sehingga bersentuhan dengan tangannya yang galak menampakkan urat-urat kasar, justeru itu bukti...terus-terusan ayah memerah keringat buat saya...
demi ummi, demi kita.
puisi ini untuk ayah.
saya rindu untuk kembali mengucup dahi ayah
yang semakin bertambah jalur kerutnya.
Allah. sungguh tenang dalam dakapan ayah.
sungguh-sungguh tenang.
puisi ini untuk ayah,
saat saya 'jatuh', ayah pertama-tamanya menghulurkan tangannya kepada saya.
dan suri ayah, ummi...bersama menjadi 'penyelamat'
membuka hati, mengajar erti kembali kepada Ilahi Rabbul Jalal
disitu saya temukan ketenangan
saya temukan kekuatan.
ayah,
pernah suatu ketika, saya merasakan ayah berlaku tidak adil pada saya. saya merasakan kasih sayangmu itu sangat sedikit diberi kepada saya. saya rasa terpinggir. lama saya mendiam. muhasabah kembali. astaghfirullah al-adzim. zalimnya saya. justeru sayalah antara yang sering mendapat perhatian ayah. aneh! nafsu seakan berjaya mengheret, agar saya lebih tamak. biar merasa tidak cukup dengan kasih sayang ayah. maafkan saya. maafkan kak ti, ayah. sungguh saya khilaf. kerna tenggelam dalam hinanya hamba yang tidak tahu rasa syukur. ya Allah, pulihkan perasaan ini.
ayah,
saat ini. saya sangat rindu pada wajahmu. sangat rindu mendengarkan bicaramu. andai sahaja ayah bisa mengerti, saya sungguh-sungguh mahu kembali ke sana. namun masih belum bisa. saya butuh waktu. sungguh dalam gelut perjuangan, hati makin ketagih pada kasih sayangmu.
ayah,
saat berjauhan. sering khuatir pada kondisimu. selamatkah dirimu di sana? amankah kamu di sana? saya mahu menjagamu. merawatmu. dan itulah satu-satu kebahagiaan saya. saya seperti tidak sabar menanti saat itu. ya Allah, tenteramkan hati...damaikan jiwa dalam penantian. dalam rindu yang semakin berkeluh kesah. padaMu Allah, pelihara ayah, pelihara suri hati ayah, ummi kami dalam jagaMu. ameen ya Rabb.
Allah,
dengarkan saya. ubati kerinduan saya. kasihi mereka, seperti mereka yang telah berbuat pada kami sewaktu kecil. terima amal mereka. dengarkan doa mereka, yang tidak pernah lelah mendoakan keberhasilan kami, anak-anak. dengarkan saya, Allah. izinkan saya membahagiakan mereka. izinkan. biar mereka tidak lelah lagi. biar mereka bisa istirehat dalam amal di penghujung usia. izinkan. ya Allah, ampunkan ayah andai tanpa sedar dia berbuat khilaf mendidik kami, anak-anak. haramkan api neraka ke atas batang tubuhnya. ke atas batang tubuh suri hatinya, ummi. masukkan mereka ke syurgaMu yang mulia dengan kerahmatan dan kasih sayangMu, yang melimpah-limpah. bajai cinta mereka. hingga ke syurgaMu.
'ayah, saya merinduimu, juga surimu, ummi. ayah saya mencintaimu. juga surimu, ummi. nantikan saya di batas waktu. berjuang dalam kemelut perjuangan. semoga nantinya ada hari yang bisa mengumpulkan kita kembali. jadi satu. sentiasa dalam doa. saya rindukan saat itu, yang entah kapan bisa terjadi. moga-moga tidak lama lagi. rindu. serius. pelihara kerinduan ini ya Allah, agar Engkau meredhai kami semua. berkati kami ya Allah. ampunkan kami. mekarkan kasih sayang kami.'
akhir qalam, ini buat ayah...
-wardatulhikmah-
14 Syaaban 1432 H
Bkt. Angkasa. KL.


Tiada ulasan:
Catat Ulasan