Selasa, 19 Julai 2011

Ukuran Cinta. Dimanakah kita?

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabb l-Amin. Selawat dan salam ke atas Baginda Muhammad SAW, ahli keluarganya, para sahabat serta kecintaan-kecintaan Baginda SAW.

Ukuran cinta. Dimanakah kita? Lebih tepat, dimanakah saya?

Hati. Semuanya bermula dari sini. Dari hati. Dan bilamana ada hati, di situ kan bergantung segala macam bentuk perasaan, bahkan rasa cinta. Cinta itu fitrah. Citrah itu wajar. Semua orang mahu mencintai. Semuanya juga mahu dicintai.

Cinta - mengandung kebahagiaan. Saya mempunyai pengalaman bersama adik-adik, hatta sahabat-sahabat saya sendiri. Mereka sependapat mengatakan bahawa cinta itu bisa membuat hidup lebih bermakna. Reputasi akademik jadi lebih sukses. Hidup terasa lebih bersemangat untuk dijalani. Saya akui. Kalau kuasa cinta itu ternyata sangat hebat. Perihal cinta sesama makhluk. Makhluk yang lain termotivasi, lalu membuahkan kesuksesan demi kesuksesan dalam hidup. 

Lalu bagaimana perihal keimanan? Apa hubungnya dengan cinta? Justeru firman Allah mengungkap :

"...sedang orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah."

(QS Al-Baqarah : 165)

Kalau cinta sesama makhluk itu bisa membuahkan kesuksesan hidup. Lalu apa jawapannya andai cinta makhluk itu dipersembah buat al-Khaliq? Buat pemilik sebenar cinta? Buat 'sang membuahkan rasa cinta' dalam hati manusia? SubhanAllah. Begitu manusia berdialog membutuhkan jawapan, lalu Allah SWT menjawab langsung dalam firmanNya (seperti yang tertera di atas). SubhanAllah. Alangkah beruntung bagi mereka yang memiliki cinta Allah. Betapa tidak? Bukan sahaja hidup sukses, bahkan keimanan...bisa bertambah bukan? SubhanAllah. Sebagai mukmin, pastinya mahu reputasi iman itu jadi makin meningkat. 

'sedang keimanan itu milik mereka yang mendahulukan cinta kepada Kekasihnya'

Lalu dimana kita? Bagaimana hati kita menjaga radar cinta? Saya tidak menegah bercinta. Kerna itu fitrah. Bagaimana hebat kalian antara makhluk saling mencintai, jangan pernah meletakkan pemilik sebenar-benar cinta disisi. Bukan selayaknya dihati. Kerna tanpa izinNya, nescaya kamu tidak akan menikmati rasa cinta itu. Justeru, bersyukur. Dan pelihara kemurniaan cinta. Pelihara kesucian cinta. Kalau ditanya untuk apa? Cukup saya menjawab, redha Allah itu bersama pencinta-pencinta yang mendahulukan cintaNya. Yang bersegera kepadaNya.

Syaikh Ibn 'Atha'illah as-Sakandari, dalam kitabnya Al-Hikam : Petuah-petuah Agung mengatakan :

"Seorang pencinta bukanlah orang yang mengharapkan imbalan dari orang yang dicintainya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya, atau menuntut sesuatu dari kekasihnya itu. Tapi sejatinya, pencinta adalah orang yang bermurah hati memberi pada kekasihnya, bukan malah memperoleh sesuatu darinya."

Dengan maksud yang difahami : Seorang hamba yang mencintai Allah Ta'ala tidak akan menuntut dariNya, kecuali perasaan cinta yang serupa. Dan akan mempersembahkan yang terbaik dari amalnya untuk Zat yang ia cintai itu.

SubhanAllah. Duhai makhluk yang bernama manusia, tidakkah kita berfikir? Tidakkah kita perhatikan? Dalam seluruh kehidupan kita ini, seluruhnya pemberian dari siapa kalau bukan dari Dia yang mencintai kita? Saat kita memerlukan, Dia segera memberikan. Dia segera mencukupi keperluan, kebutuhan kita. Bukankah itu simbol cinta? SubhanAllah. Sehingga akhir hayat, kita terus menerima dari Dia. Tanpa lelah Dia memberi. Kerna cuma satu...kerna kecintaan Dia yang mendalam buat kita. Lalu, bagaimana kita membalasnya? Bagaimana kita hargai cinta Dia? SubhanAllah. Koreksi diri. Dimanakah ukuran cinta kita.

'pemberian itu lambang cinta Dia. tidakkah kita berfikir?'

Allahu'alam.
18 Syaaban 1432 H
Darul Hidayah.

Tiada ulasan: